Depan > Berita & Artikel

Laporan: Asia Pacific Regional Forum 2008 – Training Program



Untitled

Asia Pacific Regional Forum Training Program yang diadakan selama dua hari merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan bersamaan dengan acara Asia Pacific Regional Forum, dimana training ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan berbagi pengalaman diantara Member Organisation GS1.

Program pelatihan yang diadakan GS1 Global Office diselengarakan pada tanggal 21 October 2008 sampai dengan tanggal 22 October 2008, bertempat di kantor GS1 Australia dan diikuti oleh 10 negara Asia Pasifik. Dari GS1 Indonesia, Bapak Eddy Syahbudi dan Ibu Sri Suhartati, berkesempatan untuk mengikuti program pelatihan tersebut. Ms. Camille, Education & Training Integrator GS1 Australia dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas kedatangan peserta training yang datang dari berbagai negara di Asia Pacific dan berharap dari training tersebut dapat diambil manfaatnya bagi perkembangan service GS1 dinegara masing-masing.

Materi Pelatiahan

1. Technical Aspect of GS1 DataBar and Applications, oleh: Ilteris Oney, GS1 Global Office.

GS1 DataBar dahulu disebut RSS (Reduced Space Symbology) merupakan simbologi barcode berukuran kecil yang ditujukan untuk digunakan pada produk yang mempunyai kemasan kecil atau tidak mencukupi untuk memuat symbol barcode EAN-13. Di tahun 2010 dicanangkan GS1 DataBar dipakai untuk fresh produce dapat melewati POS (Point of Sale) ritel secara global.


DataBar Label

Simbologi GS1 DataBar yang dapat dipakai untuk melewati scanning di POS adalah:

- GS1 DataBar Stacked Omnidirectional
- GS1 DataBar Omnidirectional
- GS1 DataBar Expanded
- GS1 DataBar Expanded Stacked.

Keempat simbologi tersebut penggunaannya tergantung pada informasi tambahan apa yang akan dimasukkan kedalam barcode.

Untuk produk yang ingin memasukkan informasi tambahan digunakan simbol GS1 DataBar Expanded dimana didalam simbol dapat dimasukkan Application Identifier (AI) seperti pada simbol GS1-128. Ukuran simbol GS1 DataBar yang terkecil bisa mencapai 2,03 mm tingginya sehingga dapat diaplikasikan untuk fresh produce satuan misalnya 1 buah apel, pisang atau yang lainnya sehingga konsumen dapat membeli apel dalam jumlah satuan.

2. What you need to do within your market, oleh: Rachel Kairuz , Senior Advisor, Industry Services GS1 Australia.

Untuk menghadapi GS1 DataBar Sunrise 2010 dimana simbologi GS1 DataBar digunakan secara global melewati POS ritel, GS1 Australia menjelaskan apa saja yang mereka sudah lakukan untuk mensosialisasikan simbologi tersebut kepada pihak industri dan ritel.Untuk di internal mereka memberikan training kepada staff mengenai DataBar, aplikasi DataBar dan keterlibatan GS1 didalamnya dan juga mengenai aspek teknik dari standar GS1 DataBar. Training external juga dilakukan kepada ritel, Manufaktur dan solution provider termasuk printer dan designer. Pada tahap ini belum ada retailer besar di Australia yang sudah siap dengan GS1 DataBar karena untuk satu retailer besar mereka membutuhkan 6000 scanner yang harus di upgrade.

Langkah selanjutnya harus dipastikan bahwa GS1 DataBar ada di dalam agenda semua industry working group dan melakukan pendekatan kepada retailer secara individu sehingga tujuan di tahun 2010 nanti akan tercapai.

3. Verification of GS1 DataBar, oleh Timothy Doherty, GS1 New Zealand.

Verifikasi symbol GS1 DataBar prosesnya sama seperti yang dilakukan pada simbologi GS1 lainnya ( EAN-13 , ITF-14 ), dimana selain menggunakan alat verifier juga dibutuhkan pengamatan mata yang tidak dapat dilakukan oleh alat tersebut misalnya tinggi barcode, nomor company prefix yang benar, orientasi/lokasi dan Human Readable. Verifikasi ini bertujuan untuk memastikan symbol barcode GS1 DataBar tercetak dengan baik serta mempunyai ukuran yang tepat.

4. GS1 Data Matrix, oleh Ilteris Oney, GS1 Global Office.

Simbologi GS1 Data Matrix merupakan simbologi 2D yang digunakan untuk item yang sangat kecil misalnya Healthcare Item, Animal Health , Direct Part Marking. GS1 Data Matrix (ECC 200) dapat mengkodekan seluruh Application Identifier (AI) GS1. Format data untuk data matrix sama seperti format data untuk GS1-128. Ukuran symbol Data Matrix tergantung jumlah data yang dikodekan dan dapat mengkodekan alpha-numeric. Proses scanning data matrix menggunakan Image camera. Symbol Data Matrix sebaiknya ditempatkan pada permukaan yang tidak terdapat bayangan, jauhkan dari polished stainless steel.

Metode pencetakan symbol Data Matrix:


Symbol Data Matrix

-

Menggunakan Electro Chemical, arus listrik voltage rendah dialirkan melalui stencil ke bagian permukaan sehingga menghasilkan tanda/simbol. Metode ini tidak cocok digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan proses otomatisasi yang tinggi, biasanya metode ini digunakan untuk volume produk yang rendah.

-

Ink Jet, metode ini menggunakan bulatan kecil yang disemprotkan langsung keatas permukaan bagian yang akan di beri simbol. Ink Jet biasanya menghasilkan tanda yang kontras, tergantung pada substrate dan warna tinta. Walaupun sudah tersedia tinta permanen , tetapi ink jet tidak dipertimbangkan oleh beberapa standar industri sebagai metode pencetakan permanen.
 

-

Laser Etch, metode ini menggunakan laser untuk menggambar simbol langsung diatas permukaan bagian yang mau di cetak. Metode ini cocok untuk digunakan pada lingkungan yang membutuhkan proses otomatisasi yang tinggi. Walaupun peralatan Laser Etching mempunyai harga yang lebih mahal daripada alat lainnya, tetapi tidak dibutuhkan biaya tambahan untuk tinta dan perawatan minimal.
Contoh: penempatan Data Matrix pada product L’oreal. Chip yang digunakan pada Data Matrix.

5. Basic of Traceability, oleh: Diane Taillard, GS1 Global Office.

Keselamatan konsumen dan traceability saat ini menjadi topik yang dikedepankan didalam diskusi baik itu di pemerintahan maupun kalangan industri. GS1 telah membangun sebuah standar traceability dalam rangka memenuhi kebutuhan yang sangat penting ini. Traceability itu sendiri adalah kemampuan untuk melacak sejarah, aplikasi atau lokasi dari barang/produk yang bersangkutan. Proses traceability ini dapat dicapai menggunakan barcode, RFID, EDI network dan peralatan lainnya. Untuk membangun kesadaran mengenai pentingnya traceability, GS1 menyediakan brochure, website mengenai traceability, flyer, studi kasus dan seminar.

Sepuluh langkah mudah untuk meng-implementasi-kan Traceability:

1. Dapatkan pengetahuan mengenai traceability. 6. Implementasi system traceability.
2. Analisa kondisi yang terjadi saat ini. 7. Training/education dan dokumentasi.
3. Set up struktur kerja dan lingkupnya. 8. Validasi / kesesuaian(kecocokan).
4. Rancang solusi tekniknya. 9. Gunakan dan lakukan terus monitoring.
5. Validasi spesifikasi untuk setiap proses.  


Saat ini GS1 Malaysia melakukan sebuah pilot projek yang bernama The Malaysia Food Information and Traceability ( MFIT), yaitu sebuah Information Hub yang menghubungkan seluruh food supply chain mulai dari pertanian hingga ke tangan konsumen. Projek ini diluncurkan di tiga sektor pertanian yaitu; perkebunan buah belimbing, udang dan ternak unggas. GS1 MO lainnya seperti GS1 Hungary telah menerbitkan buku mengenai traceability, GS1 Egypt bekerjasama dengan Egyptian national center for agro food traceability (E Trace) di dukung dana dari The United Nations Industrial Development (UNIDO) membantu para petani di Mesir dan exporter untuk mengimplementasikan traceability yang memenuhi persyaratan peraturan EU(European Union) no. EC 178/2002.

6. How to Engage with Educational Institutions, oleh: Steven Pereira, CIO GS1 Australia.

GS1 Australia menjelaskan langkah-langkah apa saja yang mereka sudah lakukan dalam menjalin hubungan dengan pihak universitas/institusi pendidikan.

Step 1. Vision for education, yaitu membangun reputasi sebagai tempat yang dipilih pertama oleh perusahaan yang ingin belajar mengenai supply chain. Menjadi pemimpin didalam pengembangan dan menjadi sumber pengetahuan dan informasi mengenai supply chain best practices dan untuk memastikan bahwa setiap kursus mengenai supply chain management kurikulumnya memasukkan standar GS1 System.

Step 2. Develop Courseware & Subject Mater, saat ini education service yang telah dijalankan GS1 Australia adalah Supply Chain Knowledge Centre, LEARN Classroom, LEARN Online dan Webinar.

Step 3. Identify Institutions where GS1 material could be useful and establish an MOU, institusi yang menjadi target GS1 Australia adalah Universitas dimana subjek yang berhubungan dengan GS1 System dapat dipelajari misalnya Logistik, eCommerce, International Business, Information Technology dan Food Sciences. Kejuruan dan Training Institution dimana mempelajari subjek seperti Inventory Management, Warehouse Management, supply chain management, transport & Logistic.

Saat ini GS1 Australia telah membuat MOU dengan 12 institusi pembelajaran yaitu; Deakin University ( Information System), Swinburne University of Technology, RMIT, Victoria University dll.

Dasar dari MOU berisi antara lain:

  • GS1 akan mengatur acara untuk membahas ide kerjasama riset yang memungkinkan didalam area supply chain dengan beberapa group atau perusahaan anggota GS1.

  • Membantu perkembangan program training mengenai GS1 system, tawaran sebagai dosen tamu.

  • GS1 akan mendukung sponsorship untuk student prizes.

  •  Kedua pihak akan berbagi material yang berhubungan dengan training dan pendidikan.

Step 4. Work on Developing Collaborative Projects
GS1 Australia menawarkan academic grants untuk member yang mau mengambil certifikat kelulusan dari Deakin Unviversity , Swinburne University , Queensland University of Technology. Materi kursus harus berisi materi mengenai GS1 dan GS1 akan membayar setengah dari biaya kursus setahun.

Step 5 . Engage User Companies in the Relationship
Mengadakan suatu forum yang bernama Supply Chain Futures Forum. Tujuan dari forum tersebut mendiskusikan konten pendidikan dan model penyampaiannya. Peserta yang diajak bergabung dengan forum ini terdiri dari ; universitas yang sudah mempunyai MOU dengan GS1 Australia, institusi dan bisnis yang mempunyai pandangan kedepan terhadap perkembangan SCM leaders.

7. How we engaged educational institutions in New Zealand, oleh Bruce Pollock, GS1 New Zealand.

GS1 New Zealand menjelaskan bahwa educational/pendidikan merupakan salah satu sector disamping FMCG (fast moving consumer goods), Hardware, Health Sector, Agriculture Retail dan automotive yang harus dikembangkan. Manfaat yang dapat diambil dari kerjasama dengan institusi pendidikan dalam hal ini GS1 New Zealand bekerjasama dengan Natcoll yaitu suatu lembaga pendidikan yang mengajarkan mengenai Design Technology yaitu memperluas pengetahuan mengenai GS1 standar kepada para pelajar dimana nantinya pelajar akan mengimplementasikannya kembali pada saat mereka terlibat dengan industri dan juga merupakan strategi jangka panjang untuk mengurangi kesalahan pada verifikasi dan barcode.

8. The components of EPC, oleh Alfio Grasso, Senior Advisor EPCglobal Standards Development Ian Robertson, EPCglobal.

Electronic Product Code (EPC), secara unik mengidentifikasikan objek fisik melalui Radio Frequency Identification (RFID) tag dan alat-alat yang lain dan juga memberikan fasilitas untuk dapat melacak produk melewati seluruh proses perputarannya.

EPC Network
EPC Network adalah sebuah teknologi yang menjadikan organisasi/perusahaan lebih efektif dan efisien melalui informasi yang didapat secara nyata mengenai item di dalam supply chain dan juga merupakan teknologi baru yang mempunyai standar bersifat terbuka dan global dipadu dengan teknologi radio frequency identification (RFID) berbiaya rendah serta infrastruktur untuk jaringan komunikasi (communications network) yaitu, Electronic Product Code (sebuah nomor yang secara unik mengidentifikasikan sebuah item) akan memberikan informasi secara real time mengenai lokasi item, sejarah mengenai item dan jumlah item didalam supply chain. EPC Network ini merupakan hasil riset yang dilakukan oleh Auto-ID dengan dukungan lebih dari 100 perusahaan terkemuka.

Struktur Pengkodean Electronic Product Code (EPC)
EPC adalah sebuah kode elektronik untuk produk yang secara spesifik diwakilkan sebagai sebuah rangkaian bit. EPC mengkodekan tiga nomor berisi sebuah Electronic Product Code ditambah sebuah Version number yang mengidentifikasikan struktur yang menerangkan EPC. Jadi seluruh EPC mengkodekan empat nomor yang berbeda (Version number, Domain manager number, Object Class Number dan Serial Number) dengan masing-masing nomor dikodekan kedalam partisi yang berbeda dari rangkaian bit.

Struktur Data GS1 yang dimasukkan kedalam pengkodean EPC:

- Serialised Global Trade Item Number (SGTIN)
- Serial Shipping Container Code (SSCC)
- Global Returnable Asset Identifier (GRAI)
- Global Individual Asset Identifier (GIAI)
- Serialised Global Location Number (SGLN)
- Global Document Type Identifier (GDTI)
- Global Service Relationship Number (GSRN)

Data lainnya:

- General Identifier (GID)
- Dod ( Department of defence)

EPCIS ( EPC Information Services)
Standar EPCglobal yang dirancang agar diantara perusahaan dapat berbagi data EPC. Tujuan berbagi data ini adalah agar peserta didalam EPCglobal network dapat melihat posisi objek yang menggunakan epc didalam konteks bisnis.

Tag dan Reader
Seluruh system identifikasi menggunakan RFID terdiri atas tiga komponen utama:

  • RFID tag

  • RFID reader

  • Data processing subsystem

RFID tag (disebut juga transponder) diletakan pada objek yang akan diidentifikasi dan menyimpan data spesifik mengenai item. Tag akan merespond signal dari RFID reader. Signal respond membawa informasi yang tersimpan yang mungkin berisi ID data untuk objek dimana tag tersebut ditempelkan, ID dari tag itu sendiri dan data tambahan lainnya tergantung dari kapasitas memori dari microchip tag.

Anatomi dasar Tag
RFID tag terdiri dari sebuah RFID chip ( juga disebut Application Specific Integrated Circuit atau ASIC), antenna ( kadang disebut juga inductor) dan power source.
RFID chip terdiri dari modulation circuitry, control circuitry, memory dan processor. Fungsi dari masing - masing elemen tersebut tergantung dari jenis tag dan juga ada atau tidak adanya power source.

Antena /Inductor
Antenna atau inductor menerima signal dari reader dan memancarkan respon balik kepada reader. Penggunaan induction coil atau antenna ditentukan dari frekwensi yang digunakan dimana tag tersebut didesign untuk beroperasi:

  • Low Frekwensi dan High Frekwensi tag biasanya menggunakan induction coils.

  • Ultra High Frekwensi dan microwave frekwensi tag mempunyai antenna.

Modulation Circuitry
Merubah signal yang diterima dari reader untuk memasukkan data yang akan di transmit kembali ke reader.

Control Circuitry
Bertugas mengawasi fungsi internal processor.

Processor
Bertugas menginterpretasi signal yang diterima dari reader dan mengontrol memory storage dan retrieval.

Memory
Memory element bersifat writable dan nonwritable data storage. Tag dapat diprogram untuk menjadi read-only atau read/write.Tag dapat diprogram pada saat di manufaktur atau juga pada tingkat aplikasi, semua tergantung dari jenis tag itu sendiri.

Power Source
Power source menyediakan tenaga elektrik ke elemen tag. Tag mendapat sumber tenaga dari signal yang diterima dari reader, atau dapat mempunyai sumber tenaga internal sendiri (battery). Cara tag mendapatkan tenaga umumnya menentukan kategori dari tag itu sendiri.


EPC Tag

Kategori Tag terdiri dari:

- Active tag
- Semi-passive ( battery –assisted) tag
- Passive tags

Active RFID tag
Tag active mempunyai sumber power (biasanya battery) yang digunakan untuk memancarkan signal ke RFID reader. Tag active dapat dibaca dari jarak yang lebih jauh dibandingkan dengan tag passive. Active tag juga dapat merespon terhadap lower level signal dibandingkan dengan passive tag, karena passive tag membutuhkan signal level yang lebih tinggi untuk mendapat tenaga dan untuk komunikasi data.
Tag active dapat juga menyimpan memori yang lebih besar dan memprosesnya karena dia mempunyai sumber tenaga sendiri.

Passive RFID Tag
Passive tag tidak mempunyai power sendiri. Power diambil dari gelombang elektromagnetik yang dipancarkan reader, menyebabkan arus listrik di dalam RFID tag antenna. Karena hanya mengandalkan energy elektromagnetik RF dari reader untuk power dan berkomunikasi maka passive tag sangat terbatas range untuk read/write. Read range untuk passive tag lebih kecil dibandingkan dengan tag active ( read range passive tag sekitar 10 feet, tetapi dapat mencapai 30 feet; untuk active tag read range dapat mencapai beberapa mil).
Passive tag menggunakan backscatter atau inductive coupling untuk berkomunikasi dengan reader dan dapat juga menggunakan magnetic atau listrik untuk sumber tenaga, ini ditentukan oleh jenis tag.

Semi-passive RFID Tag
Semi-passive tag menggunakan battery untuk menjalankan microchip circuitry tetapi berkomunikasi dengan menarik tenaga dari reader. Semi-passive tag dapat menggunakan kapasitas memory yang lebih besar termasuk kemampuan processingnya.
Active dan semi-passive tag berguna untuk tracking barang yang bernilai tinggi yang membutuhkan untuk discan pada jarak jauh, tetapi pada umumnya jenis tag ini sangat mahal untuk ditempatkan pada item yang harganya murah.

Metode Komunikasi Passive Tag
Komunikasi antara passive tag dan reader terdiri dari transfer energy dan juga transfer data. Energy di transfer menggunakan coupling. Terdapat beberapa cara metode pentransferan data ke reader tetapi passive tag biasanya menggunakan passive backscatter atau inductive coupling.

Passive Backscatter
Passive tag berkomunikasi dengan reader menggunakan passive backscatter (juga disebut modulated backscatter). Reader memancarkan signal gelombang radio frekwensi secara terus menerus kedalam lingkungan pembacaan. Pada saat tag berada diarea pembacaan, tag menerima signal dari reader dan dimodulasikan kedalam bentuk satu dan nol. Data ini digunakan sebagai perintah untuk memberitahukan tag tersebut tindakan apa yang harus dilakukan.

Inductive Coupling (Magnetic Coupling)
Arus listrik yang mengalir melalui sebuah conductor menghasilkan medan magnet disekeliling conductor. Pada saat conductor terpapar medan magnet, medan magnet mengakibatkan arus mengalir kedalam conductor. Ini yang disebut dengan inductive coupling, karena arus dihasilkan oleh pengaruh medan magnet. Proses komunikasi ini digunakan oleh peralatan RFID dengan band frekwensi LF (low frequency) dan High Frequency (HF). Antena reader RFID menggunakan arus untuk menghasilkan medan magnet. Antenna pada tag RFID pada saat terpapar oleh medan magnet yang dihasilkan oleh antenna reader, akan menghasilkan arus didalam tag sehingga memberi power pada tag circuitry.

Electromagnetic Coupling
Ultra High Frequency Tag dan Microwave tag biasanya menggunakan electromagnetic coupling. Mereka dapat menggunakan medan listrik dan juga medan magnet untuk tenaga/energy. Karena sifat dari medan magnet, hanya bisa digunakan untuk jarak pendek/dekat dari sumbernya. Itu sebabnya mengapa tag LF dan HF, yang utamanya menggunakan medan magnet mempunyai jarak baca yang pendek.

Interrogator / Reader
Interrogator mengaktifkan sebuah tag, menerima informasi dari tag dan mengkomunikasikan informasi tersebut ke host computer atau peralatan network lainnya. Jarak baca & menulis dari reader bervariasi tergantung pada kwalitas interrogator, tuning, karakteristik antenna interrogator, tag, kondisi lingkungan pembacaan (interferensi, RF noise, material dan humidity)

Read range merupakan jarak tertentu dimana reader dapat dengan sukses membaca data dari tag. Tag biasanya membutuhkan sekita 30 microwatts agar mempunyai power dan merespon balik ke reader.

Interrogator terdiri dari RF transmitter dan RF receiver, control unit ( computer) dan communication channel ke antenna/network atau alat-alat lainnya.
RF transmitter terdiri dari:

  • Oscillator, yang meng-create frequncy yang dibawa, yaitu frekwensi dimana reader beroperasi.

  • Modulator, memodulasi gelombang yang dibawa dari oscillator untuk memberikan perintah atau data yang ditujukan untuk tag.

  • Amplifier, memperkuat signal sebelum di transfer ke antenna, kemudian antenna memancarkan signal ke tag didalam lingkungan pembacaan.

RF receiver terdiri dari:

  • Demodulator, menyaring data dari signal yang diterima yang datang dari tag melalui antenna interrogator.

  • Amplifier, memperkuat signal yang dimodulasi sebelum dikirim untuk diproses oleh control unit.

Control Unit terdiri dari:

  • Microprocessor dan controller , mengawasi fungsi dari interrogator, menentukan transmisi data , memproses dan menyaring data melalui network ke middleware atau back-end application , mengatur berbagai I/O peralatan (devices), menerima perintah dari middleware atau aplikasi lain berkomunikasi dengan memori.

  • Memory dalam bentuk Random Access Memory (RAM) dan read only memory (ROM) yang membawa operating system seperti linux atau windows.

Kemampuan Interrogator:

  • Filtering, tidak hanya membaca seluruh data yang terdapat di tag dan memindahkan data ke host , data yang diperoleh reader hanya data yang sudah diseleksi dan diluar itu , hanya bagian yang diminta saja yang dikirim ke Host/ middleware/application.

  • Cycle Acquisition ( kemampuan berotasi), smart reader dapat di set up untuk polling tag secara continue atau dapat di set up untuk interval waktu tertentu, seperti setiap detik, 3 detik, 5 detik atau sehari. Ini untuk mengurangi jumlah data yang masuk ke system dan tag diinterrogasi hanya apabila di perlukan. Real time, reader memindahkan data segera apabila diperlukan Batch, data diambil dan dikirim dalam Batch (dikumpulkan terlebih dahulu) Triggered, data diambil dan dikirim ke host hanya apabila dipicu oleh event tertentu atau oleh user.

  • Managing sensors, reader dapat mengatur sensor external seperti sensor gerak melalui I/O interfaces.

  • Triggering Interrogation, interrogasi dapat dimulai berdasarkan signal dari sensor ( seperti sensor gerak) berdasarkan waktu atau secara manual.

  • Dense reader mode operation, reader dapat beroperasi dilingkungan yang banyak reader lainnya dan dapat menghindar atau mengurangi resiko interferensi.

  • Anticollision, reader dapat mengumpulkan tag dengan menggunakan algorithma tertentu untuk mencegah tag saling bertubrukan ( dua tag atau lebih merespon pada waktu yan sama).

Berdasarkan metode komunikasi yang digunakan, reader terbagi atas:

  • System RFID active , reader mengirim signal ke active tag dan menerima signal yang dipancarkan oleh active tag. Signal ini merupakan respon terhadap signal pembacaan (reader talk first atau RTF).

  • System RFID pasive dan semi passive, reader selalu mengirim signal terlebih dahulu guna menerima data dari tag (RTF). Signal yang ditransmisikan dikirim ke passive tag memberi power ke tag circuitry dan menyediakan energy untuk memodulasi signal dan mengirim data kembali ke reader. Semi passive tag menggunakan sebuah battery untuk menggerakkan circuitnya tetapi berkomunikasi dengan merefleksikan dan memodulasi signal reader dengan cara yang sama seperti passive tag. Passive & semi passive dapat menggunakan inductive coupling atau passive backscatter untuk berkomunikasi dengan tag.

9. How to set up a GSMP ( Global Standard Management Process ) Local Community Network, oleh Steven Pereira, CIO GS1 Australia.

GSMP adalah sebuah forum kerjasama global dimana GS1 standard dan solusinya dibangun dan di jaga. Proses GSMP bersifat terbuka dan transparan terdiri dari serangkaian metode dan aturan yang mengizinkan komunitas pengguna/users dan group industri untuk menyumbang saran terhadap perkembangan standar global dan guidelines.

Keanggotaan GSMP:

  • Setiap orang dapat berpartisipasi dengan mengisi aplikasi pendaftaran secara online melalui GS1 Community Room Website. Setiap aplikasi harus mendapat dukungan dari perusahaan tempat bekerja dan Member Organisation GS1 setempat.

  • Anggota mempunyai keahlian khusus seperti yang tercakup didalam scope kerja.

  • Jumlah anggota dan geography tidak dibatasi.

LCN ( Local Community Network)
Merupakan sebuah cara untuk MO User terlibat didalam GSMP dan pengembangan standar global. Dan untuk menjadi bagian dari proses pembuatan keputusan global.

Manfaat untuk Member Organisation dengan adanya LCN:

  • Mendapat input/masukan dari perusahaan lokal.

  • GSMP menjadi kunci yang memungkinkan untuk merubah sistim manajemen GS1 System, mengacu pada kebutuhan regional.

Tujuan yang akan dicapai :

  • Global Enterprises, mendapatkan gambaran yang luas melewati batas geography.

  •  MO, memainkan peranan kunci.

  •  Perusahaan dengan berbagai skala dari besar hingga home industry terlibat didalam pengembangan standar.

  • GSMP dapat meningkatkan pengembangan standar.

Yang harus dilakukan untuk dapat terlibat didalam LCN :

  • Tunjuk orang yang berkompeten dari MO untuk mengatur lokal LCN.

  • Bentuk paling tidak satu Business Requirement Group (BRG) yang terdiri dari komunitas yang mengerti akan kebutuhan pengembangan standard.

  • Pilih anggota dari komunitas lokal dan daftarkan nama dan perusahaan mereka ke GSMP dan perkenalkan mereka dengan GSMP manual.

  • MO bergabung dalam meeting bulanan global agenda.

10. Data Synchronisation : An Overview, oleh: Richard Jones, GM- Industry Management GS1 Australia

Data Synchronisation adalah proses pertukaran master data secara terus menerus dan otomatis diantara mitra bisnis. Dengan data synchronisation supplier dan buyer dapat saling bertukar informasi mengenai pembayaran, Purchase order, berita pengiriman barang dan pergerakan fisik barang ditandai dengan penomoran SSCC (serial shipping container code).

Sistim Sinkronisasi dan harmonisasi master data diantara mitra bisnis dapat meningkatkan:
• Kelancaran arus barang.
• Pengontrolan yang lebih baik terhadap proses supply chain.
• Menjamin ketepatan data.
• Menurunkan biaya di supply chain.

GS1 Net adalah network yang terdiri dari Data Pool dan Registry yang di atur oleh GS1 Australia guna menyediakan service sinchronisasi data berdasarkan standar global GS1 System dan GDSN dan merupakan bagian dari Global Data Synchronization Network.

Metode Upload data untuk supplier:

  • Dilakukan secara online manual data entry (disarankan hanya untuk perusahaan kecil dengan jumlah produk sedikit).

  • GS1net Browser Upload service yaitu memasukkan data melalui GS1net Web interface (dikenakan bayaran).

Data di export dari back office system menggunakan GS1 XML dan konektifitas dapat melalui AS2, FTP, HTTP dan VAN.
Status pengguna GS1net sampai dengan tanggal 17 Oktober 2008
- 1387 perusahaan yang terdiri dari 51 buyer, 1316 vendor dan 20 search & download ( 759000 GTIN terdaftar didalam registry)
- 277 vendor telah mengupload data
- 605 vendor telah siap dengan GS1net

The Global Data Synchronisation Network (GDSN) adalah sebuah network berbasis internet ,dihubungkan ke data pool yang introperable dengan global registry sehingga memungkinkan perusahaan diseluruh dunia untuk bertukar data supply chain yang sudah distandarisasi dan di synchronisasi diantara mitra bisnis.

GS1 Data Pool, merupakan electronic cataloque yang berisi data standardized item, bertindak sebagai source dan atau recipient master data. Data pool dapat dijalankan oleh GS1 member organization, supplier, customer atau service provider.
GS1 Global Registry (yellow pages directory) merupakan direktori yang bersifat global untuk membantu komunitas GDSN menempatkan data source, mengatur proses synchronisasi secara terus menerus diantara mitra bisnis dan menjamin keunikan dari item yang didaftarkan serta lokasi perusahaan didalam GDSN.

Didalam hubungan dagang kita harus menentukan siapa kita , dimana kita , apa yang mau kita perdagangkan dan target market mana yang akan kita tuju. GS1 mempunyai kunci identifikasi untuk mengidentifikasi lokasi ( GLN ) dan trade item ( GTIN). Kunci-kunci identifikasi tersebut tidak menyediakan informasi yang cukup, sehingga dilengkapi dengan atribut untuk menjabarkannya seperti ;description , size , pack , kode klasifikasi (GPC), data formats dan semuanya ini disebut master data.

Proses sinkronisasi master data yang terus menerus diantara mitra bisnis menjamin semuanya mempunyai sistim yang sama dan juga akan meningkatkan ketepatan data diantara mitra bisnis termasuk menurunnya biaya yang harus dikeluarkan di jalur supply.

Agar proses sinkronisasi data dapat dilakukan , tiga hal berikut ini yang harus dipenuhi :

  • Supplier mempublish item.

  • Retailer mendaftar ke item.

  • Retailer menentukan apakah mereka menginginkan untuk sinkronisasi item dan sudah tersedia perangkat untuk menjalani proses tersebut.

Agar data tersebut terdapat di data pool , kedua badan usaha tersebut harus mendaftar ke Global Registry.



GDSN Network

11. Supply Chain Knowledge Center

Supply Chain Knowledge Center memberikan program training yang dibangun secara khusus untuk perusahan besar, menengah maupun perusahaan kecil. Di Supply Chain Knowledge Center peserta dapat belajar mengenai manajemen dan proses yang berlangsung di jalur supply. Gedung Supply Chain Knowledge Center itu sendiri menjadi satu dengan kantor GS1 Australia, dimana untuk kantornya menempati lantai 2 dan untuk Supply Chain Knowledge Center berada dilantai 1. Bangunan tersebut mempunyai luas kurang lebih 300m yang terdiri dari ruang reception,1 conference room yang dapat menampung 12 orang, 2 training room dengan kapasitas masing-masing dapat menampung 30 peserta training, Display Zone tempat dimana pengunjung dapat mencari informasi mengenai service-service yang diberikan melalui 3 monitor PC dan juga tempat mendisplay produk beserta brochure.

Untuk ruang workshop terdiri dari:

  • Simulation Theatre , dirancang untuk mengakomodasi sekitar 15 peserta workshop. Feature yang inovatif memungkinkan 4 orang peserta untuk ambil bagian dalam memainkan peranan dalam permainan simulasi yang menggunakan multimedia untuk mendemokan konsep-konsep kunci didalam manajemen supply chain. Didalam simulasi ini ,peserta diperbolehkan untuk berdagang dan membuat keputusan untuk mengatur bisnis individu masing-masing dimana hasil dari keputusan tersebut akan terlihat di induk layar monitor.

  • Supply Chain Model , system dirancang dengan ukuran sesuai aslinya, secara fisik mewakili aktifitas yang dilakukan di jalur supply. Para peserta diberi kesempatan untuk melihat cara pengambilan data melalui sistim penomoran dan transmisi pesan secara elektronis sehingga dapat mengatur seluruh kegiatan dasar didalam lingkungan fisik yang berhubungan dengan operasional bisnis mereka.

  • Partner Room, merupakan ruangan terpisah dimana perusahaan yang mengikuti program Alliance Partner dapat memesan ruang tersebut untuk mendisplay produk mereka atau digunakan sebagai ruang meeting.

Untuk Modul workshop akan terus dikembangkan guna memenuhi kebutuhan dari berbagai range industri. Modul workshop yang telah ada saat ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan bisnis skala kecil dengan tingkat kematangan supply chainnya masih rendah, modul ini terdiri dari 6 modul yang dinamakan “chain reaction “ yang terdiri dari:

1. Introduction ‘ Journey to Supply Chain Excellence”
Modul introduction ditujukan untuk meningkatkan kesadaran bahwa perusahaan merupakan bagian dari sebuah supply chain yang lebih besar. Dengan menggunakan posisi kita didalam supply chain ,kita akan mengetahui sesuatu yang mau kita rubah didalam proses operasional dan organisasi untuk menjadikannya lebih baik lagi. Pada akhirnya, Supply Chain Knowledge Centre bertujuan untuk membantu membangun kemampuan dari supply chain perusahaan yang berarti juga meningkatkan performance bisnisnya.

Diharapkan hasil pembelajaran yang didapat:

  • Dapat mengetahui konteks supply chain di organisasi masing-masing.

  • Mengetahui operasi yang sedang berjalan sebagai elemen dari supply chain.

  • Commit untuk menggunakan supply chain perspective didalam menjalankan bisnisnya.

2. Standard “ Adopting The GS1 language of Supply Chain “
Modul mengenai standard ini memperkenalkan elemen dasar dari GS1 standard, penomoran item, barcode atau data carier dan electronic messaging. Modul ini juga berisi demo sederhana dari elemen dasar tersebut yang menawarkan kepada perusahaan sebuah kesempatan untuk mengetahui manfaat yang diterima oleh organisasi apabila menggunakan standar-standar ini.
 

Hasil pembelajaran yang didapat:

- Mengenal standard yang berhubungan dengan operasi di perusahaan masing-masing.
- Mengetahui nilai standard didalam supply chain trading relationships.
- Commit untuk melangkah pada tahap pengimplementasian.

3. Process “Linking Information and Workflow”
Modul ini menawarkan sebuah tantangan untuk melihat bisnis kita sebagai group yang saling berkaitan dari sebuah proses, lebih dari sekedar sebuah rangkaian transaksi. Kunci dari transaksi ini adalah mengakui pentingnya arus informasi diantara supply chain partner akan meningkatkan keseluruhan performance supply chain.

Pelajaran yang dihasilkan:

  • Mengenal proses di jalur supply.

  • Menggunakan pendekatan yang sederhana untuk proses pemetaan.

  • Commit untuk melalukan proses mapping guna meningkatkan kegiatan supply chain.

4. Organisation “Manage People, Skills and Change”
Modul ini berisi penekanan pada pentingnya peran manusia sebagai pembuat keputusan di supply chain dan sebagai pintu gerbang informasi. Kemampuan komunikasi dan membuat keputusan didalam supply chain merupakan landasan dari performance supply chain organisasi kita.

Hasil belajar yang didapat:

  • Mengetahui issue kemampuan organisasi, workload , komunikasi , incentive dll.

  • Mengetahui ‘sebab dan akibat’ yang berhubungan dengan performance di jalur.

  • Supply Commit untuk secara berkala me-review dengan menggunakan ‘organisation checklist’.

5. Technology “ Choosing the right tools for trade “
Dalam modul ini diperingatkan mengenai resiko bisnis yang diakibatkan oleh teknologi yang tidak tepat didalam perspective sebagai alat untuk melayani orang dan proses bisnis itu sendiri. Di identifikasi performance biaya dari teknologi yang tidak memadai dan tekanan finansial dari teknologi yang over specified. Untuk membuatnya seimbang, harus dibuat keputusan dalam memilih teknologi dalam context yang mempengaruhi proses bisnis dan peranan manusia.

Pelajaran yang dihasilkan:

  • Mengetahui jenis teknologi yang berhubungan.

  • Mengetahui bagaimana teknologi tersebut mempengaruhi performance supply chain.

  • Menggunakan metode balance dalam memilih teknologi yang tepat/sesuai.

6. Integration “ Building Capability Together”

Supply chain integration adalah sebuah hubungan dagang dimana seluruh pihak bekerja bersama didalam standar supply chain,proses, issue organizational dan pemilihan teknologi.

Pelajaran yang dihasilkan:

  • Mengenal tujuan pembagian dalam supply chain.

  • Mengetahui permasalahan yang akan didiskusikan didalam pengimplementasian.

Kesimpulan dan pelajaran yang dapat diambil

Berdasarkan pengamatan dan pelajaran yang didapat setelah mengikuti training mengenai GS1 DataBar, Data Matrix, Traceability, Global Data Synchronisation Network & Barcode Verification dan juga kunjungan ke Supply Chain Knowledge Center.

1. The Global Data Synchronisation Network (GDSN)
Penyerapan GDSN lebih lambat dari yang diharapkan, adopsi secara massal membutuhkan waktu beberapa tahun lagi karena disebabkan hal-hal seperti perpindahan yang fundamental dari proses bisnis internal diantara retailer dan manufaktur, beberapa perusahaan sudah mempunyai sistim internal untuk data sync-nya. GS1 Australia telah mempunyai sebuah data pool bernama GS1net yang sudah GDSN certified . Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk membangun data pool tersebut dan hampir 11 tahun lamanya GS1 Australia tidak mendapatkan revenue dari service tersebut. Untuk itu dibutuhkan sebuah komitmen dari retailer dan supplier sebelum kita berencana membangun sebuah data pool.

2. Sunrise 2010 untuk DataBar dapat digunakan melewati Point of Sale ritel secara global di fokuskan pada fresh produce , untuk symbol barcode yang saat ini sudah ada seperti EAN-13 tetap dipergunakan .Dibutuhkan kesiapan retailer untuk dapat menerima simbologi tersebut , karena dibutuhkan scanner yang berbeda dengan yang digunakan untuk EAN-13 yang sekarang sedang berjalan.

3. GS1 Data Matrix adalah simbologi yang digunakan untuk healthcare dan produk yang mempunyai kemasan sangat kecil. Dapat memuat informasi tambahan dengan ukuran barcode yang sangat kecil, hal ini tidak dapat dilakukan oleh simbologi EAN-13.

4. Supply Chain Knowledge Center GS1 Australia memberikan program training yang dibangun secara khusus untuk perusahan besar, menengah maupun perusahaan kecil. Di Supply Chain Knowledge Center peserta dapat belajar mengenai manajemen dan proses yang berlangsung di jalur supply. Ruang yang dibutuhkan untuk sebuah knowledge center ternyata tidak harus besar, kami rasa GS1 Indonesia pun dapat membangun tempat serupa dimana ruang yang dibutuhkan hanya terdiri dari 3 ruang yaitu:

  • Simulation Theatre, dirancang untuk mengakomodasi sekitar 15 peserta workshop. Feature yang inovatif memungkinkan 4 orang peserta untuk ambil bagian dalam memainkan peranan dalam permainan simulasi yang menggunakan multimedia untuk mendemokan konsep-konsep kunci didalam manajemen supply chain.

  • Supply Chain Model , system dirancang dengan ukuran sesuai aslinya, secara fisik mewakili aktifitas yang dilakukan di jalur supply.

  • Partner Room, merupakan ruangan terpisah dimana perusahaan yang mengikuti program Alliance Partner dapat memesan ruang tersebut untuk mendisplay produk mereka atau digunakan sebagai ruang meeting.

Galery Foto:
 



Ibu Sri Suhartati di depan
kantor GS1 Australia




Bapak Eddy Syahbudi di depan
kantor GS1 Australia
 



Suasana ruang pelatihan.


Penulis: Ir. Sri Suhartati
Sumber : GS1Indonesia
<< Halaman semula