|
Keamanan, kemampuan untuk menelusuri dan efisiensi pada
healthcare industri berada pada urutan terdepan dari regulasi yang
dikeluarkan oleh pemerintah maupun industrinya itu sendiri. Beberapa isu
yang saat ini marak dibicarakan dan menjadi perhatian dunia adalah:
- Mengenai masalah pemalsuan obat
- Penarikan produk bermasalah
- Kesalahan pengobatan
- Majemen logistik yang kurang efisien.
|
 |
Sayangnya beberapa solusi yang diajukan kepada pelaku
supply chain nasional maupun international seringkali tidak cocok dan
tidak dapat dirujuk kembali. Ketersediaan sebuah standar yang bersifat
terbuka dan global merupakan suatu cara yang efektif dan efisien untuk
memenuhi kebutuhan yang beraneka ragam tersebut. Sebagai sebuah open
standard yang bersifat global, GS1 Global Standard for Healthcare (GTSH)
mampu menyediakan framework dasar yang dapat menjabarkan proses
traceability dan menentukan persyaratan minimum yang dibutuhkan untuk
seluruh stakeholder/pelaku bisnis pada industri tersebut.
 |
GTSH memungkinkan sebuah system traceability dapat saling beroperasi
diantara healthcare supply chain baik secara lokal maupun secara
internasional. Sejak didirikannya Healthcare Work Team pada bulan Desember
2007, lebih dari 100 perwakilan seluruh stakeholder yang berasal dari 30
negara yang berbeda bekerja untuk GTSH. Work Team yang difasilitasi oleh
GS1 Global Office itu dipimpin oleh perwakilan dari Robert Ballanger
Hospital, France dan Pfizer. Saat ini melalui GS1 Global Standard
Management Proses (GSMP), GTSH telah disetujui sebagai salah satu
standard untuk Traceability Healthcare. Peredaran obat
palsu yang kian marak akhir-akhir ini tidak saja mengakibatkan kerugian
ekonomi terhadap pemerintah dan industri tapi juga dapat mengancam
keselamatan jiwa pemakainya. |
|
Untuk mengatasi masalah tersebut dibutuhkan
niat dan kerja keras diantara pelaku healthcare supply chain terutama
diawali dari manufaktur/produsen obat hingga ke perusahaan ritel untuk
menyediakan seluruh informasi dan data yang dapat digunakan dalam proses
traceability. Proses tersebut tidak dapat berjalan tanpa adanya kerjasama
antara pihak-pihak yang terlibat di dalam proses traceability seperti
transporter (pihak yang bertanggungjawab untuk masalah pendistribusian/pengiriman
item produk), manufaktur/produsen, warehouse/ distribution center,
retailer, badan yang berwenang mengeluarkan regulasi dan lain-lain.
Dengan tersedianya alat bantu atau teknologi pengambilan data secara
otomatis dengan menggunakan barcode atau RFID (Radio Frequency
Identification), lebih memudahkan lagi proses traceability tersebut.
Sistem identifikasi otomatis yang menggunakan barcode atau RFID dapat
diaplikasikan secara luas termasuk scanning pada point of care untuk
mencocokkan data pasien dengan data produk. Dapat juga digunakan untuk
proses verifikasi data pasien melalui wristband, kemudian untuk pengawasan
stok dan pengaturan supply barang dan lain-lain. |
 |

|
Penggunaan aplikasi dan
sistem tersebut dapat menurunkan tingkat kesalahan obat, pencegahan
pemalsuan obat, menghemat biaya dan meningkatkan proses supply chain pada
healthcare industries agar lebih efisien dan lebih transparan.
Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa identifikasi otomatis yang
dilakukan diseluruh healthcare supply chain mulai dari titik pengiriman
hingga ke pasien merupakan alat yang efektif didalam pencegahan kesalahan
obat. Untuk memudahkan itu semua dibutuhkan sebuah standard global guna
membangun sistem identifikasi otomatis yang efisen dan efektif di sektor
healthcare. |
|
Penulis: Ir. Sri Suhartati
Sumber : GS1 INDONESIA
<< Halaman semula
|